Jumat, 18 November 2011

Surat

Di sinilah aku berdiri di depan sebuah rumah besar putih yang berarsitektur kuno. Tidak ada yang kuketahui tentang rumah ini, aku baru saja pindah ke sini tapi entah kenapa sepertinya aku sudah pernah datang ke rumah ini. Rumah itu tampak seperti lama tak ditinggali dengan kerusakan dan kerapuhan di sana sini. Pekarangan luas yang sudah benar-benar tidak terawat lagi. Aku membuka pagar dengan hati-hati, pagar tersebut mengeluarkan bunyi berdecit yang cukup memekakkan telinga. Lalu kutelusuri jalan setapak yang dipenuhi dedaunan kering dan belukar memenuhi bebatuan koral yang menjadi pembatas antara jalan setapak dan pekarangan. Pelan-pelan kunaiki tangga teras yang sudah lapuk, dan memutar knop pintu dengan warna emas yang sudah kusam, aku mengira bahwa pintu ini tidak dapat dibuka namun ternyata tidak dikunci. Kembali suara berderit yang dihasilkan membuat bulu kudukku berdiri. Saat berhasil kubuka lebar pintu itu dengan susah payah, dari dalam berhembus angin yang membawa debu-debu rumah itu hingga membuatku terbatuk-batuk karenanya. Aku mengamati sebentar dari depan pintu,
“Rumah ini sudah benar-benar tidak terurus. Siapa yang pernah tinggal di sini?” Aku bertanya dalam hatiku.
Tampak debu dan sarang laba-labalah yang menghiasi penuh  rumah ini, dengan ragu-ragu aku memasuki bagian depan rumah lalu ke ruang tengah. Masih tergantung potret-potret kuno yang menghiasi dindingnya. Potret-potret tersebut mungkin adalah mereka yang pernah menempati rumah ini tapi entah kapan. Salah satu potretnya adalah seorang gadis yang mungkin seusia denganku. Di wajahnya tampak kengerian yang amat besar. Aku sempat berpikir mungkin ia takut pada cahaya kilatan kamera. Kemudian ada sebuah potret lagi, seorang gadis kecil yang memeluk sebuah boneka dengan tangan kirinya sedang tangan kanannya mendekap sesuatu di dadanya, entahlah mungkin itu sebuah liontin karena aku melihat rantai kalung yang menjulur jatuh dari tangan kecilnya. Wajahnya tampak cantik namun air mukanya seperti memiliki suatu kemuraman dan kesedihan yang amat dalam. Cukup lama aku memandangi potret tersebut sampai seekor kelelawar yang dari tadi sudah bergantungan di langit-langit mengkepak-kepakan sayapnya membuat suara gaduh yang mengagetkanku. Merasa sudah terlalu lama aku di sini, akupun memutuskan untuk segera pulang.
“Mungkin besok aku akan ke sini lagi” pikirku, mengingat masih banyak yang belum aku lihat di rumah itu.
Aku segera keluar, menutup pintu bergagang emas yang sudah kusam, menuruni tangga beranda dengan hati-hati, menelusuri jalan setapak, dan menutup kembali pagar yang berdecit-decit tersebut, dan segera berlari ke rumah takut kalau-kalau ibu mencari aku karena aku harus membantu ibuku mengatur barang-barang kami yang baru sampai ke sini kemarin siang.
 Ya, kami baru saja pindah ke sini karena ada suatu masalah yang mungkin tidak aku mengerti karena aku masih kecil. Masalah itu mengakibatkan orang tuaku bercerai. Ibu adalah orang tua tunggal sekarang dan aku adalah anak gadis satu-satunya.
Setibanya aku dirumah ibu sedang mengangkut sebuah kardus ke depan sofa, di sini nantinya akan menjadi ruang menonton kami. Saat melihatku kembali ibu berkata kepadaku,
“Tita, kemana saja kamu sayang? Ibu dari tadi mencarimu. Masih banyak yang harus kita bereskan, bantu ibu dulu sebelum kamu pergi bermain.”
Aku memandang ibuku dan mengangguk kecil sambil berkata,
“Iya bu, maafkan Tita. Tita baru sajapergi bermain. Mari sekarang Tita bantu ibu berberes.”
Keesokan harinya.
Pagi ini aku terbangun karena mencium aroma lezat yang dihasilkan dari masakan ibu di dapur. Aku bangun dari tempat tidurku dan berjalan ke luar kamar menuju kearah dapur. Ibu melihat ku dan tersenyum,
“Selamat pagi sayang. Bagaimana tidurmu? Apa kamu sudah lapar? Ibu memasakkan kesukaaan.”
Kemudian ibu menyajikan masakan dalam pan penggorengan ke dalam piring yang sudah tersedia di atas meja. Omelette dengan bacon dan keju cair masakan ibu adalah makanan kesukaanku. Dengan lahap aku menghabiskan makanan itu. Sempat melintas di benakku untuk kembali mengunjungi rumah di ujung jalan tersebut.
“Bu, apa sehabis makan aku boleh pergi bermain? Boleh ya bu? Boleh ya?” ucapku memelas pada ibu. Ibu mengangguk,
“Tapi ingat kamu harus pulang saat makan siang.”
“Baik bu, aku pasti pulang saat makan siang.”
Kembali di depan rumah besar tersebut aku berdiri, sesaat sebelum membuka pagarnya yang berdecit-decit tersebut ada sesuatu yang lain yang menarik perhatianku. Sebuah kotak surat. Kudekati kotak surat berwarna merah dengan tiang penyangga berwarna putih tersebut, kubuka perlahan penutupnya dan menemukan kalau di sana tergeletak sepucuk surat yang sudah berdebu. Aku meniup debu-debu yang berada di atas surat tersebut dan kemudian membukanya, kubaca kop surat tersebut
 “Untuk ibu, dari Tita”
“Tita?” dahiku mengernyit,
“Siapapun dia yang menulis surat ini memiliki nama yang sama denganku.”
Rasa penasaranku semakin memuncak, mulai kubaca isi surat dengan tulisan tangan yang tintanya sudah agak kabur tersebut. Isinya,
“Ibu maafkan aku. Maaf aku tidak pulang saat makan siang seperti yang sudah ibu pesankan padaku. Maaf aku melanggar janji. Aku pergi bermain ke rumah besar yang di ujung jalan. Saat itu ada sesuatu yang menarik rasa penasaranku, yaitu sebuah liontin perak yang tergantung di depan pintu kamar yang mungkin milik gadis kecil yang ada di dalam potret rumah tersebut. Liontin persegi berwarna perak dengan ukiran sulur-sulur memenuhi dan di tengahnya terdapat sebuah batu ruby berwarna merah. Aku sedang sibuk mengamat-amati liontin tersebut sampai suara gaduh kepakan sayap kelelawar di langit-langit menyadarkanku kalau hari sudah mulai sore. Aku mengantongi liontin tersebut dan bergegas keluar dari rumah tersebut bermaksud untuk segera pulang karena takut kalau ibu akan marah dan khawatir padaku. Namun saat menutup pintu depan rumah itu aku melihat seorang gadis kecil berambut pirang memakai gaun tidur berwarna biru kelabu dengan mendekap sebuah boneka di tangan kirinya. Ia berbalik dan menatapku. Wajahnya sangat mirip dengan potret yang ada di dalam rumah, atau mungkin itu memang dia. Ia berkata,
“Punya Tita!”
Nama gadis kecil itu sama dengan namaku. Masih diam tak bergeming berhadapan dengan gadis kecil itu sampai kemudian ia berkata lagi,
“Punya Tita!”
Aku langsung teringat pada liontin yang kutemukan di dalam tadi, liontin yang sekarang berada di dalam saku celanaku. Cepat saja ku keluarkan liontin itu dan mendekati gadis kecil itu sambil menyodorkan kalung yang ku temukan tersebut. Ia menerimanya dan tersenyum. Kemudian ia mengulurkan tangan kecilnya,
“Ayo main!” Katanya.
Entah kenapa aku seakan tidak bisa menolak. Aku menyambut uluran tangan gadis kecil tersebut. Dan kemudian di sinilah aku bu, menjadi sebuah potret di dalam ruang tengah rumah besar di ujung jalan. Aku tidak bisa kembali lagi. Aku menyesal ibu. Aku ingin pulang.”
Aku bergidik, bulu kudukku berdiri.
“Jadi gadis kecil di dalam potret tersebut dan anak perempuan di potret yang satunya adalah dia yang menulis surat ini.” Pikirku.
Aku dapat merasakan tangan ku gemetaran. Aku menutup mata, mengambil nafas yang dalam sambil menurunkan surat itu. Saat aku mengeluarkan nafas yang kutahan sejenak tadi seraya membuka mataku, aku melihat seorang gadis kecil berambut pirang, menggunakan pakaian tidur berwarna biru kelabu. Tangan kirinya mendekap sebuah boneka, di lehernya tergantung kalung dengan liontin persegi berwarna perak dengan sebuah baru ruby di tengahnya. Ia berdiri di hadapan ku, mengulurkan tangannya sambil berkata,
“Ayo main!”

TAMAT