Minggu, 16 Oktober 2011

Loyang-loyang kekosongan

Semua perasaan itu tercampur aduk seperti adonan di dalam mangkuk. Berputar-putar senang kesana-kemari, berhenti sebentar lalu kemudian berputar lagi.
Kadang ada bagianny yg tumpah,hilang,jatuh entah dimana. Tidak bisa mengisi penuh semua loyang penampungan.
Ada loyang kesenangan, kesedihan,dan kekosongan. Loyang-loyang kekosongan yang sering muncul. Itu CINTA yang belum ada.

Nyanyian Penderitaanmu

Lagu ini, lagu lama setahun lalu
Kusenandungkan dalam hati, menunggu saatnya tiba
Kini waktunya kunyanyikan, kusuarakan di atas penderitaan batinmu
Biar kau tahu, betapa bahagianya aku
Tertawa lepas di balik luka-luka hatimu
Biar kau tahu, betapa sakitnya goresan itu
Tangismu,
Biar, biar penantianku tak sia-sia

Sadness

Di sini diungkapkan,kata-kata yang tak terungkapkan. Yang telah membatu,terkubur dalam-dalam.
Tertahan di bibir,kelu.
Tahukah ia? Sadarkah ia?
Derita batin ini,menggores terlalu banyak.
Sakit,sakit yang terukir jelas.
Masih tak mengertikah ia?
Masih tertutupkah mata hatinya?
Di tengah malam-malam sepi aku menangis tertahan, tak ingin seorang pun tahu deritaku.

Satu tanda harap

Beribu-ribu, berjuta-juta kata terangkai indah.
Membuat suatu barisan panjang dalam lembar putih bersih. Kata-kata berbicara, kata-kata mengungkapkan, memberi pandangan jelas setiap makna,memberi suatu tanda harap. Satu kata pudar di tengah, entah pernah dituliskan atau memang tidak pernah ada di sana. Satu kata yang memaknai hidup, satu yang kosong.

Jalan Hati

Kala hati lelah tak terperi. Diam dan rasakan sejenak,angin berhembus lembut mengitari. Berbisik. . . Langit tersenyum padaku katanya

Ia pergi, lalu kembali. Datang saat kau terlelap.Tak usah memegangnya, rasakan saja ia mengetuk sanubari,perlahan.
Terbangun dan sadari, indah buaiannya..

Cinta membutakan,aku hilang arah,tanpa pegangan. Ku melangkah tak tentu,meniti jalan hatiku yang panjang, mencari hatinya

Langit ku mendung, rintik hujan di mata ku membasahi setiap relung hatinya. Masih ku sisakan setengah jiwaku menantinya di hari-hari kelabu, biarkan mentari menjelang, pasti.

Karena ku tahu harapku masih panjang,jalan masih jauh membentang, cobaan silih menghadang.
Tak goyah langkahkan kakiku,coba tuk berdiri tegar.
Ku yakin d ujung sana jawabnya telah menunggu,aku datang. . .

Hancur

Kumpulkan serpihnya
Bergegaslah! Mereka berjatuhan semakin cepat.
Dua pertiga telah hilang.
Masih ada waktu, tapi hanya sesaat.
Apakah dia masih layak untuk tetap hidup?
Atau kau akan membiarkannya terbakar?
Bagaimana akhirnya?
Biarkan cinta itu hidup, batinnya menjerit..